Pada 27 November 2025 kemarin, Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf (atau Gus Irfan), bertemu dengan Sri Sultan Hamengku Buwono X di Yogyakarta untuk membahas persiapan haji 1447H/2026M. Dalam pertemuan itu, mereka menegaskan pentingnya melibatkan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) agar turut serta menyediakan layanan konsumsi bagi jamaah haji.
Mengapa UMKM? Karena dengan ditetapkannya Yogyakarta sebagai embarkasi dan debarkasi haji untuk musim 2026 — melalui keputusan resmi Kemenhaj — maka peran lokal menjadi krusial. Embarkasi di Kulonprogo serta Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) diproyeksikan buka jalur layanan baru untuk jamaah dari DIY dan sekitar.
Gus Irfan menekankan, pelibatan UMKM tidak hanya soal konsumsi, tetapi juga bagian dari upaya mendongkrak ekonomi lokal. Dengan ribuan jamaah haji yang akan transit, kebutuhan logistik, katering, transportasi, hotel — akan menyerap tenaga dan produk lokal. Ini bisa jadi “angin segar” bagi pelaku UMKM setempat untuk berkembang.
Sri Sultan HB X menyambut gembira inisiatif ini. Menurutnya, penggabungan layanan ibadah dan pemberdayaan ekonomi lokal adalah bentuk sinergi ideal antara pemerintah dan masyarakat — membawa manfaat nyata bagi komunitas di Yogyakarta.
“Dengan adanya embarkasi haji, UMKM akan memperoleh akses pasar yang luas. Ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan pelaku UMKM serta menggerakkan roda ekonomi daerah.” — Sri Sultan HB X
amphuri.org
